Senin, 15 Juli 2013

LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BENCANA BANJIR

LEMBAR KERJA SISWA (LKS)
BENCANA BANJIR
      TUJUAN PEMBELAJARAN

      ·         Siswa mampu menjelaskan definisi banjir secara detail
      ·         Siswa mampu menjelaskan penyebab bencana banjir
      ·         Siswa mampu menganalisis pencegahan,mengurangi dampak bencana banjir
      ·         Siswa mampu memahami dan menjelaskan aspek partisipasi dalam mengurangi bencana banjir
     
     MATERI
  
    Definisi banjir
    Banjir merupakan salah satu fenomena alam yang dapat terjadi baik pada sungai yang memiliki aliran     sepanjang tahun maupun pada sungai yang memiliki aliran hanya pada musim penghujan.
    Penyebab bencana banjir
Pada umumnya banjir disebabkan oleh curah hujan yang tinggi diatas normal sehingga sistem pengaliran air yang terdiri dari sungai dan anak sungai alamiah serta sistem saluran drainase dank anal penampung banjir buatan yang ada tidak mampu menampung akumulasi air hujan tersebut sehingga meluap. Penggundulan hutan daerah tangkapan air hujan juga menyebabkan peningkatan debit banjir karena debit/pasokan air yang masuk kedalam sistem aliran menjadi tinggi sehingga melampaui kapasitas pengaliran dan menjadi pemicu terjadinya erosi pada lahan curam yang menyebabkan terjadinya di sistem pengaliran air dan wadah air lainnya.
       Pencegahan/mengurangi dampak bencana banjir
    ·         Tidak membuang sampah/limbah padat ke sungai, saluran dan sistem drainase
    ·          Tidak membangun jembatan dan bangunan yang menghalangi atau mempersempit palung aliran sungai
    ·         Tidak tinggal dalam bantaran sungai
    ·         Membuat saluran air agar waktu terjadi hujan, air mengalir dengan lancar ke sungai
    ·         Menghentikan penggundulan hutan di daerah tangkapan air hujan, dan
    ·         Ikut mengendalikan laju urbanisasi dan pertumbuhan penduduk.
    Aspek partisipasi dalam mengurangi dampak bencana banjir
   ·         Ikut serta dan aktif dalam latihan-latihan upaya mitigasi bencana banjir misalnya, kampanye peduli    bencana, latihan kesiapsiagaan penanggulangan banjir dan evakuasi
   ·         Ikut serta dalam pendidikan publik yang terkait dengan upaya mitigasi bencana banjir
   ·         Ikut serta dalam setiap tahapan konsultasi publik yang terkait dengan pembangunan parasarana  pengendalian banjir dan upaya mitigasi bencana banjir
   ·         Melaksanakan pola dan waktu tanam yang mengadaptasi pola dan kondisi banjir setempat untuk mengurangi kerugian usaha dan lahan pertanian dari banjir, dan
  ·         Mengadakan gotong royong pembersihan saluran drainase yang ada dilingkungan masing-masing.


      METODE


 
   


Metode yang digunakan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS) yaitu :
        ·         Ceramah interaktif
        ·         Diskusi
        ·         Tanya jawab



 
     EVALUASI

          1.      Apa yang anda ketahui tentang bencana banjir?
          2.      Apa yang anda lakukan saat bencana banjir terjadi di daerah anda?
          3.      Bagaimana tindakan yang dilakukan dalam mengurangi bencana banjir?
          4.      Sebutkan cara-cara pencegahan bencana banjir!
          5.      Sebutkan dan jelaskan aspek partisipasi dalam mengurangi dampak bencana banjir!

Jumat, 12 Juli 2013

RPP Bagus purnomo pada MICROTEACHING



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )

SMP
:
SMP NEGERI 1 SURAKARTA
Mata Pelajaran
:
 IPS Geografi Sejarah
Kelas/Semester
:
VII / 2
Standar Kompetensi
:
. 4. Memahami usaha manusia untuk mengenali  perkembangan lingkungannya

Kompetensi Dasar
:
4.2 Membuat sketsa dan peta wilayah yang menggambarkan objek geografi
5.1 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan dan pemerintahan pada masa Hindu-Budha, serta peninggalan-peninggalannya

Alokasi Waktu
:
1 × 15 menit

Tema : Peta persebaran peninggalan bersejarah pada masa Hindu-Budha di Indonesia.

A.       Indikator Pencapaian Kompetensi
1.      Membuat peta persebaran peninggalan bersejarah pada masa Hindu-Budha di salah satu wilayah di Indonesia.
2.      Menunjukan persebaran peninggalan bersejarah pada masa Hindu-Budha di Indonesia.
  1. Mengidentifikasi pola persebaran peninggalan bersejarah pada masa Hindu-Budha di Indonesia.

B.       Tujuan Pembelajaran
  1. Melalui pembuatan peta secara kelompok siswa dapat berinteraksi dan bekerja sama secara langsung dengan siswa yang lainnya untuk proses pembuatan peta bertaraf Nasional sehingga akan menimbulkan sikap tanggung jawab satu sama lain.
  2. Melalui pendeskripsian persebaran peninggalan bersejarah pada masa Hindu-Budha di salah satu wilayah di Indonesia dengan menggunakan peta siswa dapat memahami secara langsung tentang persebaran peninggalan bersejarah dengan media peta yang telah dibuat siswa secara berkelompok sehingga akan menimbulkan karakter percaya diri dari masing-masing siswa.
  3. Melalui analisis terhadap pola persebaran peninggalan bersejarah pada masa Hindu-Budha di Indonesia siswa dapat mengerti sejarah persebaran peninggalan bersejarah dengan melakukan diskusi kelompok melalui media peta sehingga akan menimbulkan karakter kepemimpinan dan Team work yang baik dan bermanfaat untuk kedepannya nanti.

C.       Materi Pokok
  1. Membuat Peta Objek Geografi.
  2. Persebaran peninggalan bersejarah pada masa Hindu-Budha di Indonesia.

D.       Metode
  1. Ceramah Interaktif
2.      Eksperimen (Membuat Peta)
3.      Broken Poster (Menempel gambar peninggalan bersejarah)

E.       KEGIATAN PEMBELAJARAN
No
Kegiatan Belajar
Waktu
1
Pendahuluan
1.      Guru masuk kelas dan mengucapkan salam
2.      Siswa dan guru berdoa bersama yang dipimpin oleh guru (karakter religius)
3.      Siswa dan Guru mengontrol kebersihan kelas (karakter peduli lingkungan)
4.      Guru melakukan presensi dan perkenalan
5.      Guru memberikan motivasi yaitu “Ayo bangun dunia di atas perbedaan jika satu tetap kuat kita bersinar” maksudnya adalah jika kita sama-sama mengerjakan sesuatu akan lebih kuat apabila dilakukan secara bersama-sama, jadi kerja sama tim akan lebih baik dibandingkan dengan kerja sendiri.
6.      Guru  menyampaikan tujuan pembelajaran dan kompetensi dasar yang akan dicapai
7.      Guru menyampaikan apersepsi : Tolong jelaskan salah satu dari siswa perjalanan rumah ke sekolah.







3 menit

2
Kegiatan Inti
Eksplorasi
-       Guru menerangkan sekilas tentang peta dan unsur-unsur peta dengan bantuan media, yaitu video dan gambar.
-       Guru  siswa kedalam 3 kelompok untuk bekerjasama membuat peta dan menempelkan gambar peninggalan bersejarah ke masing-masing wilayah yang sudah ditentukan.
-       Guru membagikan ke masing-masing kelompok 1 peta wilayah di Indonesia yang telah ditentukan skalanya serta memiliki batas administrasi garis putus dan tidak begitu jelas serta membagikan gambar peninggalan bersejarah pada masa kerajaan Hindu-Budha.
-       Siswa yang telah berkelompok diminta untuk membuat peta dengan mempertebal garis putus-putus pada bagian batas administrasi (kerja sama).
-       Siswa yang telah selesai membuat peta kemudian langsung menempel gambar peninggalan bersejarah pada masa kerajaan Hindu-Budha sesuai dengan wilayahnya masing-masing.
Elaborasi                          
-          Salah satu Siswa pada masing-masing kelompok maju kedepan kelas dan mempresentasikan peta yang telah di buat.
-          Siswa menerangkan persebaran peninggalan bersejarah pada masa kerajaan Hindu-Budha pada masing-masing wilayah di Indonesia dengan media peta yang telah di buat.
-          Siswa yang menjadi pendengar berhak bertanya dan wajib dijawab oleh kelompok siswa yang bertugas sebagai mediator.
-          Semua siswa yang masih belum mencapai titik temu dalam hal pembelajaran berhak langsung bertanya kapada Guru.
-          Guru memeriksa kesetiap kelompok dan memfasilitasi jika ada yang kurang jelas.
Konfirmasi
-          Guru menerangkan dari masing-masing peta yang sudah di tempel persebaran peninggalan bersearah pada masa kerajaan Hindu-Budha di setiap wilayah yang telah di buat oleh siswa.
-          Siswa yang kurang jelas diperbolehkan untuk bertanya.
-          Guru memberikan pertanyaan umpan balik kepada siswa.













8 menit








3
Penutup
-          Guru mengevaluasi siswa menggunakan media adobe captivate 4, dengan memberikan 5 soal pilihan ganda dan soal benar atau salah.
-          Guru Menilai hasil evaluasi siswa.
-          Guru memberikan tugas
-          Guru menyimpulkan Pembelajaran.


4 menit

F.        PENILAIAN HASIL BELAJAR
-            Penilaian
Teknik             : tugas dan post tes
Bentuk            :  tertulis                                         
-            Tindak lanjut
1.      Pemberian kesempatan mengumpulkan tugas yang terlambat bagi siswa maksimal 1 hari
2.      Remidi bagi siswa yang belum tuntas post tes diluar jam pelajaran

a.      Tugas : Bentuklah kelompok maksimal 4 orang, buatlah peta persebaran kerajaan Islam di Indonesia dengan menggunakan pensil warna dan buat sekreatif mungkin.

b.      Soal  Post Tes :
1.      Gambaran sebagian atau seluruh wilayah di permukaan bumi dengan berbagai kenampakannya pada bidang datar yang diperkecil dengan menggunakan skala tertentu, adalah pengertian dari....?
a. sketsa     d. Fotogrametri
b. peta       e. Pengindraan Jauh
c. denah
2.      Peta yang memiliki kenampakan hipsografi,hidrografi,vegetasi,kenampakan buatan manusia,dan data lain ditampilkan tidak selalu mengikuti ketentuan yang berlaku pada peta umum adalah pengertian dari...?
a. Peta Tematik     d. Peta mental
b. Peta topografi   e. Peta Inset
c. Peta Kontur
3.      Gambar di bawah ini adalah gambar ...?
a. Peta timbul        d. Fotogrametri
b. Peta Topografi  e. Sketsa
c. Peta Inset

4.      Gambar di bawah ini adalah gambar....?
a. Sketsa                d. Fotogrametri
b. Peta Tematik     e. Pengindraan Jauh
c. Peta Timbul
5.      Peta Relief sama dengan peta timbul.
a. benar
b. salah

            Kunci jawaban
1.      B
2.      A
3.      E
4.      B
5.      A

Penskoran
-          Dijawab betul skor 1
-          Dijawab salah skor 0
-          Skor maksimal 5

Nilai =  Jumlah nilai     x  100
           Skor maksimal

c.       Lembar Kelompok Eksperimen
1.      Membuat Peta Rupa Bumi Indonesia
2.      Mendeskripsikan Persebaran peninggalan bersejarah pada masa kerajaan Hindu-Budha di Indonesia

G.    Sumber Pembelajaran
1.      Buku  MARI BELAJAR IPS bse  untuk SMP/MTs Kelas VII
2.      Atlas, globe, dan peta
3.      Power point dan video pembelajaran























Surakarta,    April 2013    
Mengetahui
Dosen Pembimbing Microteaching                                               Mahasiswa



M. Amin Sunarhadi, S.Si, M.P.                                             Bagus Purnomo
NIM. A 610100056

LAMPIRAN

MATERI PEMBELAJARAN :
  1. Peta
Peta adalah gambaran sebagian atau seluruh wilayah di permukaan bumi dengan berbagai kenampakannya pada bidang datar yang diperkecil dengan menggunakan skala tertentu.
Unsur-unsur peta
a.       Judul peta
Saat kita pertama kali membaca sebuah peta, tentulah kita terfokus pada judul peta tersebut. Judul peta menggambarkan daerah atau negara mana yang ada dalam peta.
b.      Simbol peta
Pada peta akan ditemui gambar-gambar berupa simbol yang mewakili kenampakan yang ada di permukaan bumi.
c.       Garis astronomis
Letak suatu objek di permukaan bumi dapat ditunjukkan melalui peta dengan mudah.
d.      Legenda
Untuk dapat membaca simbol yang terdapat dalam peta kita menggunakan keterangan simbol yang tercantum dalam legenda. Legenda umumnya terdapat pada kotak bagian bawah dari peta.
e.       Skala peta
Skala digunakan untuk menunjukkan perbandingan antara jarak pada peta dan jarak sebenarnya pada permukaan bumi.
f.       Arah mata angin
Arah mata angin digunakan sebagai tanda yang berfungsi untuk menunjukkan arah mata angin peta yang bersangkutan. Biasanya, tanda arah yang digunakan berbentuk panah yang mengarah ke utara. Tanda arah diletakkan di sebelah kanan atau kiri di bawah judul peta.
g.      Nama tempat
Setiap daerah yang terdapat dalam sebuah peta akan mencantumkan nama daerahnya untuk memudahkan pembacaan peta. Daerah pada peta biasahnya dibatasi oleh garis atau titik-titik yang menunjukkan batas adminis tratif dari daerah tersebut. Penulisan nama tempat pada peta biasanya menggunakan huruf gothic dan berbentuk kapital. Semakin kecil wilayah administratifnya maka penulisannya semakin kecil dan tidak menggunakan huruf kapital.
h.      Inset peta
Inset merupakan peta yang berukuran lebih kecil dari peta utama. Inset dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, inset yang berupa gambar lebih luas dari gambar utama. Inset jenis ini digunakan untuk menjelaskan letak daerah yang digambarkan terhadap wilayah di sekitarnya. Kedua, inset dengan gambar yang lebih sempit yang digunakan untuk memperjelas bagian wilayah tertentu pada peta.
2.      Sketsa (peta mental/denah)
Sektsa atau peta mental sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat kamu ditanya seseorang untuk menunjukan letak suatu tempat, bila kamu mengetahui tempat yang dimaksud maka kamu akan menerangkan dimana letak tempat tersebut berada, dekat dengan kenampakan apa, berapa belokan dari tempat kamu sekarang, dan keterangan-keterangan lain yang diperlukan. Keterangan-keterangan yang kamu sampaikan merupakan kenampakan yang sudah kamu hafal sehingga kamu dapat menggambarkannya secara mudah.
(Sejarah)
KERAJAAN HINDU BUDDHA DI INDONESIA

Hindu dan Budha telah berkembang di Indonesia dilihat dari sejarah kerajaan-kerajaan dan peninggalan-peninggalan pada masa itu antara lain prasasti, candi, patung dewa, seni ukir, barang-barang logam.
Kerjaan Hindu-Buddha hampir tersebar di seluruh nusantara. Kami akan menjelaskan kerajaa-kerajaan tersebut secara urut berdasarkan garis waktu sejarah Indonesia (Nusantara).
1.      Kerajaan Kutai (Abad ke-4)
Kutai Martadipura adalah kerajaan bercorak Hindu di Nusantara yang memiliki bukti sejarah tertua. Berdiri sekitar abad ke-4. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai diberikan oleh para ahli mengambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut. Tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini dan memang sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh.



2.      Kerajaan Tarumanagara (358-669 M.)
Tarumanagara atau Kerajaan Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M. Taruma merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah. Dalam catatan sejarah dan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan, terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Taruma adalah kerajaan Hindu beraliran Wisnu.
Ibu kota kerajaan Tarumanegara adalah Sundapura. Memakai bahasa Sunda dan Sansekerta. Agama yang dianut adalah ada yang Hindu, ada yang Budha, ada yang Sunda Wiwitan. Bentuk pemerintahannya adalah Monarki.





3.      Kerajaan Sriwijaya (Abad ke-6 s/d. Ke-11)
Sriwijaya (atau juga disebut Srivijaya; Thai: ศรีวิชัย atau "Ṣ̄rī wichạy") adalah salah satu kemaharajaan bahari yang pernah berdiri di pulau Sumatera dan banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, dan pesisir Kalimantan. Dalam bahasa Sansekerta, sri berarti "bercahaya" atau "gemilang", dan wijaya berarti "kemenangan" atau "kejayaan", maka nama Sriwijaya bermakna "kemenangan yang gilang-gemilang". Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan. Selanjutnya prasasti yang paling tua mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh 682. Kemunduran pengaruh Sriwijaya terhadap daerah bawahannya mulai menyusut dikarenakan beberapa peperangan di antaranya serangan dari raja Dharmawangsa Teguh dari Jawa di tahun 990, dan tahun 1025 serangan Rajendra Chola I dari Koromandel, selanjutnya tahun 1183 kekuasaan Sriwijaya di bawah kendali kerajaan Dharmasraya.
Berdasarkan berbagai sumber sejarah, sebuah masyarakat yang kompleks dan kosmopolitan yang sangat dipengaruhi alam pikiran budha wajrayana digambarkan bersemi di ibu kota Sriwijaya. Beberapa prasasti siddhayatra abad ke-7 seperti Prasasti Talang Tuwo menggambarkan ritual budha untuk memberkati peristiwa penuh berkah yaitu peresmian taman Sriksetra, anugerah Maharaja Sriwijaya untuk rakyatnya.
Ibu Kota kerajaan ini banyak karena wilayah kekuasaan yang luas, yaitu Sriwijaya, Jawa, Kadaram, Dharmasraya. Bahasa yang dipakai adalah Melayu Kuno dan Sansekerta. Agama yang dipeluk adalah Budha Vajrayana, Budha Mahayana, Budha Hinayana dan Hindu. Bentuk pemerintahannya adalah Monarki.
         
4.      Kerajaan Sailendra
Śailendravamśa atau wangsa sailendra adalah nama wangsa atau dinasti raja-raja yang berkuasa di Sriwijaya, pulau Sumatera; dan di Mdaŋ (Kerajaan Medang), Jawa Tengah sejak tahun 752. Sebagian besar raja-rajanya adalah penganut dan pelindung agama Buddha Mahayana. Meskipun peninggalan dan manifestasi wangsa ini kebanyakan terdapat di dataran Kedu, Jawa Tengah, asal-usul wangsa ini masih diperdebatkan. Disamping berasal dari Jawa, daerah lain seperti Sumatera atau bahkan India dan Kamboja, sempat diajukan sebagai asal mula wangsa ini.

5.      Kerajaan Sunda (932-1579)
Kerajaan Sunda adalah kerajaan yang pernah ada antara tahun 932 dan 1579 Masehi di bagian Barat pulau Jawa (provinsi Banten, Jakarta, dan Jawa Barat sekarang). Di kerajaan ini agama yang berkembang adalah Hindu, Budha, dan Sunda Wiwitan.
Ibu kota kerajaan Sunda adalah Banten Girang kemudian pindah ke Pakuan Pajajaran. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Sunda, Jawa dan Melayu. Agama yang dipeluk adalah Hindu, Budha dan Sunda wiwitan. Bentuk pemerintahannya adalah Monarki.


6.      Kerajaan Medang (752-1045)
Kerajaan Medang (atau sering juga disebut Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu) adalah nama sebuah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8, kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Para raja kerajaan ini banyak meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta membangun banyak candi baik yang bercorak Hindu maupun Buddha. Kerajaan Medang akhirnya runtuh pada awal abad ke-11.
Ibu Kotanya di Jawa Tengah kemudian pindah di Jawa Timur. Memakai bahasa Jawa Kino dan Sansekerta. Agma yang dipeluk masyarakat adalah Kejawen, Hindu, Budha dan Animisme. Bentuk pemerintahannya adalah Monarki



7.      Kerajaan Kediri (1042-1222)
Kerajaan Kediri atau Kerajaan Panjalu, adalah sebuah kerajaan yang terdapat di Jawa Timur antara tahun 1042-1222. Kerajaan ini berpusat di kota Daha, yang terletak di sekitar Kota Kediri sekarang. Agama yang berkembang pada saat itu adalah Hindu dan Buddha.
Sejarah Kediri dibagi pada tahun 1042 dari Kahuripan, kemudian bergabung lagi dengan Janggala antara tahun 1116-1135. Kemudian runtuh oleh pemberontakan Ken Arok.
Kerajaan Panjalu di bawah pemerintahan Sri Jayabhaya berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala dengan semboyannya yang terkenal dalam prasasti Ngantang (1135), yaitu Panjalu Jayati, atau Panjalu Menang.
Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya inilah, Kerajaan Panjalu mengalami masa kejayaannya. Wilayah kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatra.
Ibu kotanya di Daha, Dahanapura. Memakai bahasa Jawa Kuno. Agama yang dipeluk masyarakat adalah Hindu dan Budha. Bentuk pemerintahannya adalah Monarki.


Kerajaan Janggala dan Panjalu (Kediri), kemudian bersatu menjadi Kerajaan Kediri
8.      Kerajaan Dharmasraya (1183-1347)
Dharmasraya merupakan nama ibukota dari sebuah Kerajaan Melayu di Sumatera, nama ini muncul seiring dengan melemahnya kerajaan Sriwijaya setelah serangan Rajendra Chola I raja Chola dari Koromandel pada tahun 1025. Agama yang berkembang di sini adalah agama Buddha.
            Kemunduran kerajaan Sriwijaya akibat serangan Rajendra Chola I, raja dinasti Chola telah mengakhiri kekuasaan Wangsa Sailendra atas Pulau Sumatra dan Semenanjung Malaya. Beberapa waktu kemudian muncul sebuah dinasti baru yang mengambil alih peran Wangsa Sailendra, yaitu yang disebut dengan nama Wangsa Mauli.
                Ibu Kotanya di Dharmasraya, Hulu Batang Hari. Memakai bahasa Melayu Kuno dan Sansekerta. Agama yang dipeluk masyarakat adalah Budha. Bentuk pemerintahannya adalah Monarki.
9.      Kerajaan Pagaruyung (abad ke-14-16)
Kerajaan Pagaruyung adalah sebuah Kerajaan Melayu yang pernah berdiri, meliputi provinsi Sumatra Barat sekarang dan daerah-daerah di sekitarnya. Nama kerajaan ini dirujuk dari Tambo yang ada pada masyarakat Minangkabau, yaitu nama sebuah nagari yang bernama Pagaruyung. Agama yang berkembang pada masa ini adalah Buddha, kemudian berubah menjadi Islam.
Munculnya nama Pagaruyung sebagai sebuah kerajaan Melayu tidak dapat diketahui dengan pasti, dari Tambo yang diterima oleh masyarakat Minangkabau tidak ada yang memberikan penanggalan dari setiap peristiwa-peristiwa yang diceritakan, bahkan jika menganggap Adityawarman sebagai pendiri dari kerajaan ini, Tambo sendiri juga tidak jelas menyebutkannya. Namun dari beberapa prasasti yang ditinggalkan oleh Adityawarman, menunjukan bahwa Adityawarman memang pernah menjadi raja di negeri tersebut, tepatnya menjadi Tuhan Surawasa, sebagaimana penafsiran dari Prasasti Batusangkar.
Ibu kotanya adalah Pgaruyung. Bahasa yang dipakai adalah Minang, Melayu dan Sansekerta. Agama yang dipeluk adalah Budha, namun kemudian berubah menjadi Islam. Bentuk pemerintahannya adalah Maonarki.
10.  Kerajaan Indrapura (abad ke-16-18)
Kerajaan Inderapura merupakan sebuah kerajaan yang berada di wilayah kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat sekarang, berbatasan dengan Provinsi Bengkulu dan Jambi. Secara resmi kerajaan ini pernah menjadi bawahan (vazal) Kerajaan Pagaruyung. Walau pada prakteknya kerajaan ini berdiri sendiri serta bebas mengatur urusan dalam dan luar negerinya. Agama yang berkembang pada masa ini adalah agama Buddha, kemudian pindah menjadi Islam.
Kerajaan ini pada masa jayanya meliputi wilayah pantai barat Sumatera mulai dari Padang di utara sampai Sungai Hurai di selatan. Produk terpenting Inderapura adalah lada, dan juga emas.
Ibu Kotanya terletak di Inderapura. Bahasa yang dipakai adalah Minang, Melayu dan Sansekerta. Agama yang dipeluk adalah Budha, kemudian berubah menjadi Islam. Bentuk pemerinthannya adalah Monarki.

11.  Kerajaan Singhasari (1222-1292)
Kerajaan Singhasari atau sering pula ditulis Singasari atau Singosari, adalah sebuah kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Lokasi kerajaan ini sekarang diperkirakan berada di daerah Singosari, Malang. Agama yang berkembang adalah agama Siwa-Budha.
Berdasarkan prasasti Kudadu, nama resmi Kerajaan Singhasari yang sesungguhnya ialah Kerajaan Tumapel. Menurut Nagarakretagama, ketika pertama kali didirikan tahun 1222, ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja.
Pada tahun 1222 terjadi perseteruan antara Kertajaya raja Kadiri melawan kaum brahmana. Para brahmana lalu menggabungkan diri dengan Ken Arok yang mengangkat dirinya menjadi raja pertama Tumapel bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Perang melawan Kadiri meletus di desa Ganter yang dimenangkan oleh pihak Tumapel.
Pada tahun 1254, Raja Wisnuwardhana mengangkat putranya yang bernama Kertanagara sebagai yuwaraja dan mengganti nama ibu kota menjadi Singhasari. Nama Singhasari yang merupakan nama ibu kota kemudian justru lebih terkenal daripada nama Tumapel. Maka, Kerajaan Tumapel pun terkenal pula dengan nama Kerajaan Singhasari.
Ibu Kotanya adalah Tumapel. Bahasa yang dipakai adalah Jawa Kuno dan Sansekerta. Agama yang dipeluk adalah Siwa-Budha, Kejawen, dan Animisme. Bentuk pemerintahannya adalah Monarki.

12.  Kerajaan Majapahit (1293-1527)
Majapahit adalah sebuah kerajaan di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya dan menjadi Kemaharajaan raya yang menguasai wilayah yang luas pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389.
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Nusantara dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia. Kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, hingga Indonesia timur, meskipun wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan
Sebelum berdirinya Majapahit, Singhasari telah menjadi kerajaan paling kuat di Jawa. Hal ini menjadi perhatian Kubilai Khan, penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang bernama Meng Chi ke Singhasari yang menuntut upeti. Kertanagara, penguasa kerajaan Singhasari yang terakhir menolak untuk membayar upeti dan mempermalukan utusan tersebut dengan merusak wajahnya dan memotong telinganya. Kublai Khan marah dan lalu memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293.
Ketika itu, Jayakatwang, adipati Kediri, sudah membunuh Kertanagara. Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya, menantu Kertanegara, yang datang menyerahkan diri. Raden Wijaya kemudian diberi hutan Tarik. Ia membuka hutan itu dan membangun desa baru. Desa itu dinamai Majapahit, yang namanya diambil dari buah maja, dan rasa "pahit" dari buah tersebut. Ketika pasukan Mongol tiba, Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongol untuk bertempur melawan Jayakatwang. Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya secara kalang-kabut karena mereka berada di teritori asing. Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir mereka untuk menangkap angin muson agar dapat pulang, atau mereka harus terpaksa menunggu enam bulan lagi di pulau yang asing.
Ibu Kotanya adalah Wilwatikta. Bahasa yang dipakai adalah Jawa Kuno dan Sansekerta. Agama yang dipeluk masyarakat adalah Siwa-Budha, Kejawen dan Animisme. Bentuk pemerintahannya adalah Monarki.
















LEMBAR KERJA SISWA





                          
Candi Muara Takus, terletak di Riau               Percandian Muara Jambi               Prasasti ciateureun,di jawa barat
                                                             
Candi Gunung Tua, Sumatra Utara                     prasasti yupa,kerajaan kutai di kaltim          Candi Borobudur,di Kabupaten Magelang
                 
Candi Prambanan, terletak di Klaten-Sleman       Candi Gedong Songo Gunung Ungaran                 Candi Jago , terletak di Malang


                                              
Candi Sawentar, terletak di Blitar      Kerajaan Dharmasraya Di Riau