RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )
|
SMP
|
:
|
SMP NEGERI 1 SURAKARTA
|
|
Mata Pelajaran
|
:
|
IPS Geografi Sejarah
|
|
Kelas/Semester
|
:
|
VII / 2
|
|
Standar Kompetensi
|
:
|
. 4. Memahami usaha manusia untuk mengenali perkembangan lingkungannya
|
|
Kompetensi Dasar
|
:
|
4.2 Membuat sketsa dan peta wilayah yang
menggambarkan objek geografi
|
|
Alokasi Waktu
|
:
|
1 × 15 menit
|
Tema : Peta persebaran peninggalan
bersejarah pada masa Hindu-Budha di Indonesia.
A. Indikator Pencapaian
Kompetensi
1. Membuat
peta persebaran peninggalan bersejarah pada masa Hindu-Budha di salah satu
wilayah di Indonesia.
2. Menunjukan
persebaran peninggalan bersejarah pada masa Hindu-Budha di Indonesia.
- Mengidentifikasi
pola persebaran peninggalan bersejarah pada masa Hindu-Budha di Indonesia.
B. Tujuan Pembelajaran
- Melalui
pembuatan peta secara kelompok siswa dapat berinteraksi dan
bekerja sama secara langsung dengan siswa yang lainnya untuk proses
pembuatan peta bertaraf Nasional sehingga akan menimbulkan sikap tanggung
jawab satu sama lain.
- Melalui pendeskripsian
persebaran peninggalan bersejarah pada masa Hindu-Budha di salah satu
wilayah di Indonesia dengan menggunakan peta siswa dapat memahami secara
langsung tentang persebaran peninggalan bersejarah dengan media peta yang
telah dibuat siswa secara berkelompok sehingga akan menimbulkan karakter
percaya diri dari masing-masing siswa.
- Melalui
analisis terhadap pola persebaran peninggalan bersejarah pada masa
Hindu-Budha di Indonesia siswa dapat mengerti sejarah persebaran
peninggalan bersejarah dengan melakukan diskusi kelompok melalui media
peta sehingga akan menimbulkan karakter kepemimpinan dan Team work yang baik dan bermanfaat
untuk kedepannya nanti.
C. Materi Pokok
- Membuat Peta Objek
Geografi.
- Persebaran peninggalan
bersejarah pada masa Hindu-Budha di Indonesia.
D. Metode
- Ceramah Interaktif
2.
Eksperimen (Membuat Peta)
3.
Broken Poster (Menempel gambar peninggalan bersejarah)
E. KEGIATAN
PEMBELAJARAN
|
No
|
Kegiatan Belajar
|
Waktu
|
|
1
|
Pendahuluan
1.
Guru masuk kelas dan
mengucapkan salam
2.
Siswa dan guru berdoa
bersama yang dipimpin oleh guru (karakter religius)
3.
Siswa dan Guru
mengontrol kebersihan kelas (karakter peduli lingkungan)
4.
Guru melakukan presensi
dan perkenalan
5.
Guru memberikan motivasi
yaitu
“Ayo bangun dunia di atas perbedaan jika satu tetap kuat kita bersinar”
maksudnya adalah jika kita sama-sama mengerjakan sesuatu akan lebih kuat
apabila dilakukan secara bersama-sama, jadi kerja sama tim akan lebih baik
dibandingkan dengan kerja sendiri.
6.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan
kompetensi dasar yang akan dicapai
7.
Guru menyampaikan
apersepsi : Tolong jelaskan salah satu dari siswa
perjalanan rumah ke sekolah.
|
3 menit
|
|
2
|
Kegiatan Inti
Eksplorasi
- Guru
menerangkan sekilas tentang peta dan unsur-unsur peta dengan bantuan media,
yaitu video dan gambar.
- Guru siswa kedalam 3 kelompok untuk bekerjasama
membuat peta dan menempelkan gambar peninggalan bersejarah ke masing-masing
wilayah yang sudah ditentukan.
- Guru
membagikan ke masing-masing kelompok 1 peta wilayah di Indonesia yang telah
ditentukan skalanya serta memiliki batas administrasi garis putus dan tidak
begitu jelas serta membagikan gambar peninggalan bersejarah pada masa
kerajaan Hindu-Budha.
- Siswa
yang telah berkelompok diminta untuk membuat peta dengan mempertebal garis
putus-putus pada bagian batas administrasi (kerja sama).
- Siswa
yang telah selesai membuat peta kemudian langsung menempel gambar peninggalan
bersejarah pada masa kerajaan Hindu-Budha sesuai dengan wilayahnya
masing-masing.
Elaborasi
-
Salah satu Siswa pada masing-masing kelompok
maju kedepan kelas dan mempresentasikan peta yang telah di buat.
-
Siswa menerangkan persebaran peninggalan
bersejarah pada masa kerajaan Hindu-Budha pada masing-masing wilayah di
Indonesia dengan media peta yang telah di buat.
-
Siswa yang menjadi pendengar berhak bertanya
dan wajib dijawab oleh kelompok siswa yang bertugas sebagai mediator.
-
Semua siswa yang masih belum mencapai titik
temu dalam hal pembelajaran berhak langsung bertanya kapada Guru.
-
Guru memeriksa kesetiap kelompok dan
memfasilitasi jika ada yang kurang jelas.
Konfirmasi
-
Guru menerangkan dari masing-masing peta yang
sudah di tempel persebaran peninggalan bersearah pada masa kerajaan
Hindu-Budha di setiap wilayah yang telah di buat oleh siswa.
-
Siswa yang kurang jelas diperbolehkan untuk
bertanya.
-
Guru memberikan pertanyaan umpan balik kepada
siswa.
|
8 menit
|
|
3
|
Penutup
-
Guru mengevaluasi siswa menggunakan media
adobe captivate 4, dengan memberikan 5 soal pilihan ganda dan soal benar atau
salah.
-
Guru Menilai hasil evaluasi siswa.
-
Guru memberikan tugas
-
Guru menyimpulkan Pembelajaran.
|
4 menit
|
F.
PENILAIAN HASIL BELAJAR
-
Penilaian
Teknik : tugas dan post tes
Bentuk :
tertulis
-
Tindak lanjut
1.
Pemberian kesempatan
mengumpulkan tugas yang terlambat bagi siswa maksimal 1 hari
2.
Remidi bagi siswa yang
belum tuntas post tes diluar jam pelajaran
a.
Tugas : Bentuklah
kelompok maksimal 4 orang, buatlah peta persebaran kerajaan Islam di Indonesia
dengan menggunakan pensil warna dan buat sekreatif mungkin.
b. Soal Post Tes :
1.
Gambaran sebagian atau seluruh wilayah di
permukaan bumi dengan berbagai kenampakannya pada bidang datar yang diperkecil
dengan menggunakan skala tertentu, adalah pengertian dari....?
a. sketsa d.
Fotogrametri
b. peta e.
Pengindraan Jauh
c. denah
2.
Peta yang memiliki kenampakan
hipsografi,hidrografi,vegetasi,kenampakan buatan manusia,dan data lain
ditampilkan tidak selalu mengikuti ketentuan yang berlaku pada peta umum adalah
pengertian dari...?
a. Peta Tematik d.
Peta mental
b. Peta topografi e. Peta Inset
c. Peta Kontur
3.
Gambar di bawah ini adalah gambar ...?
a. Peta timbul d.
Fotogrametri
b. Peta Topografi e. Sketsa
c. Peta Inset
4.
Gambar di bawah ini adalah gambar....?
a. Sketsa d.
Fotogrametri
b. Peta Tematik e.
Pengindraan Jauh
c. Peta Timbul
5.
Peta Relief sama dengan peta timbul.
a. benar
b. salah
Kunci
jawaban
1.
B
2.
A
3.
E
4.
B
5.
A
Penskoran
-
Dijawab betul skor 1
-
Dijawab salah skor 0
-
Skor maksimal 5
Nilai = Jumlah
nilai x 100
Skor maksimal
c.
Lembar Kelompok Eksperimen
1. Membuat
Peta Rupa Bumi Indonesia
2. Mendeskripsikan
Persebaran peninggalan bersejarah pada masa kerajaan Hindu-Budha di Indonesia
G. Sumber Pembelajaran
1. Buku MARI
BELAJAR IPS bse untuk SMP/MTs Kelas VII
2. Atlas,
globe, dan peta
3. Power point dan video pembelajaran
Surakarta, April 2013
Mengetahui
Dosen Pembimbing Microteaching Mahasiswa
M. Amin Sunarhadi, S.Si, M.P. Bagus
Purnomo
NIM. A 610100056
LAMPIRAN
MATERI PEMBELAJARAN :
- Peta
Peta
adalah gambaran sebagian atau seluruh wilayah di permukaan bumi dengan berbagai
kenampakannya pada bidang datar yang diperkecil dengan menggunakan skala tertentu.
Unsur-unsur peta
a. Judul
peta
Saat kita pertama kali membaca
sebuah peta, tentulah kita terfokus pada judul peta tersebut. Judul peta
menggambarkan daerah atau negara mana yang ada dalam peta.
b. Simbol
peta
Pada peta akan ditemui
gambar-gambar berupa simbol yang mewakili kenampakan yang ada di permukaan
bumi.
c. Garis
astronomis
Letak suatu objek di permukaan bumi
dapat ditunjukkan melalui peta dengan mudah.
d. Legenda
Untuk dapat membaca simbol yang
terdapat dalam peta kita menggunakan keterangan simbol yang tercantum dalam
legenda. Legenda umumnya terdapat pada kotak bagian bawah dari peta.
e. Skala
peta
Skala digunakan untuk menunjukkan
perbandingan antara jarak pada peta dan jarak sebenarnya pada permukaan bumi.
f. Arah
mata angin
Arah mata angin digunakan sebagai
tanda yang berfungsi untuk menunjukkan arah mata angin peta yang bersangkutan.
Biasanya, tanda arah yang digunakan berbentuk panah yang mengarah ke utara.
Tanda arah diletakkan di sebelah kanan atau kiri di bawah judul peta.
g. Nama
tempat
Setiap daerah yang terdapat dalam
sebuah peta akan mencantumkan nama daerahnya untuk memudahkan pembacaan peta.
Daerah pada peta biasahnya dibatasi oleh garis atau titik-titik yang
menunjukkan batas adminis tratif dari daerah tersebut. Penulisan nama tempat
pada peta biasanya menggunakan huruf gothic dan berbentuk kapital. Semakin
kecil wilayah administratifnya maka penulisannya semakin kecil dan tidak
menggunakan huruf kapital.
h. Inset
peta
Inset merupakan peta yang berukuran
lebih kecil dari peta utama. Inset dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, inset
yang berupa gambar lebih luas dari gambar utama. Inset jenis ini digunakan
untuk menjelaskan letak daerah yang digambarkan terhadap wilayah di sekitarnya.
Kedua, inset dengan gambar yang lebih sempit yang digunakan untuk memperjelas
bagian wilayah tertentu pada peta.
2.
Sketsa (peta mental/denah)
Sektsa atau peta mental sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada saat kamu ditanya seseorang untuk menunjukan letak suatu tempat, bila kamu
mengetahui tempat yang dimaksud maka kamu akan menerangkan dimana letak tempat
tersebut berada, dekat dengan kenampakan apa, berapa belokan dari tempat kamu
sekarang, dan keterangan-keterangan lain yang diperlukan. Keterangan-keterangan
yang kamu sampaikan merupakan kenampakan yang sudah kamu hafal sehingga kamu
dapat menggambarkannya secara mudah.
(Sejarah)
KERAJAAN HINDU BUDDHA DI INDONESIA
Hindu dan Budha telah berkembang di
Indonesia dilihat dari sejarah kerajaan-kerajaan dan peninggalan-peninggalan
pada masa itu antara lain prasasti, candi, patung dewa, seni ukir,
barang-barang logam.
Kerjaan Hindu-Buddha hampir
tersebar di seluruh nusantara. Kami akan menjelaskan kerajaa-kerajaan tersebut
secara urut berdasarkan garis waktu sejarah Indonesia (Nusantara).
1. Kerajaan Kutai (Abad ke-4)
Kutai Martadipura
adalah kerajaan bercorak Hindu di Nusantara yang memiliki bukti sejarah tertua.
Berdiri sekitar abad ke-4. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan
Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai diberikan oleh para ahli
mengambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menunjukkan eksistensi
kerajaan tersebut. Tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama
kerajaan ini dan memang sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh.
2. Kerajaan Tarumanagara (358-669 M.)
Tarumanagara atau Kerajaan Taruma
adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada
abad ke-4 hingga abad ke-7 M. Taruma merupakan
salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah.
Dalam catatan sejarah dan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan,
terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Taruma adalah kerajaan Hindu beraliran
Wisnu.
Ibu kota kerajaan
Tarumanegara adalah Sundapura. Memakai bahasa Sunda dan Sansekerta. Agama yang
dianut adalah ada yang Hindu, ada yang Budha, ada yang Sunda Wiwitan. Bentuk
pemerintahannya adalah Monarki.
3. Kerajaan Sriwijaya (Abad ke-6 s/d. Ke-11)
Sriwijaya (atau juga disebut
Srivijaya; Thai: ศรีวิชัย atau "Ṣ̄rī wichạy") adalah salah satu kemaharajaan bahari yang pernah berdiri
di pulau Sumatera dan banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah
kekuasaan membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya,
Sumatera, Jawa, dan pesisir Kalimantan. Dalam bahasa Sansekerta, sri
berarti "bercahaya" atau "gemilang", dan wijaya
berarti "kemenangan" atau "kejayaan", maka nama Sriwijaya
bermakna "kemenangan yang gilang-gemilang". Bukti awal mengenai
keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I
Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6
bulan. Selanjutnya prasasti yang paling tua mengenai Sriwijaya juga berada pada
abad ke-7, yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh 682. Kemunduran
pengaruh Sriwijaya terhadap daerah bawahannya mulai menyusut dikarenakan
beberapa peperangan di antaranya serangan dari raja Dharmawangsa Teguh dari
Jawa di tahun 990, dan tahun 1025 serangan Rajendra Chola I dari Koromandel,
selanjutnya tahun 1183 kekuasaan Sriwijaya di bawah kendali kerajaan
Dharmasraya.
Berdasarkan berbagai sumber
sejarah, sebuah masyarakat yang kompleks dan kosmopolitan yang sangat
dipengaruhi alam pikiran budha wajrayana digambarkan bersemi di ibu kota
Sriwijaya. Beberapa prasasti siddhayatra abad ke-7 seperti Prasasti Talang Tuwo
menggambarkan ritual budha untuk memberkati peristiwa penuh berkah yaitu
peresmian taman Sriksetra, anugerah Maharaja Sriwijaya untuk rakyatnya.
Ibu Kota kerajaan
ini banyak karena wilayah kekuasaan yang luas, yaitu Sriwijaya, Jawa, Kadaram,
Dharmasraya. Bahasa yang dipakai adalah Melayu Kuno dan Sansekerta. Agama yang
dipeluk adalah Budha Vajrayana, Budha Mahayana, Budha Hinayana dan Hindu.
Bentuk pemerintahannya adalah Monarki.
4. Kerajaan Sailendra
Śailendravamśa atau wangsa
sailendra adalah nama wangsa atau dinasti raja-raja yang berkuasa di Sriwijaya,
pulau Sumatera; dan di Mdaŋ (Kerajaan Medang), Jawa Tengah sejak tahun
752. Sebagian besar raja-rajanya adalah penganut dan pelindung agama Buddha
Mahayana. Meskipun peninggalan dan manifestasi wangsa ini kebanyakan terdapat
di dataran Kedu, Jawa Tengah, asal-usul wangsa ini masih diperdebatkan.
Disamping berasal dari Jawa, daerah lain seperti Sumatera atau bahkan India dan
Kamboja, sempat diajukan sebagai asal mula wangsa ini.
5. Kerajaan Sunda (932-1579)
Kerajaan Sunda adalah kerajaan yang
pernah ada antara tahun 932 dan 1579 Masehi di bagian Barat pulau Jawa
(provinsi Banten, Jakarta, dan Jawa Barat sekarang). Di kerajaan ini agama yang
berkembang adalah Hindu, Budha, dan Sunda Wiwitan.
Ibu kota kerajaan
Sunda adalah Banten Girang kemudian pindah ke Pakuan Pajajaran. Bahasa yang
dipakai adalah bahasa Sunda, Jawa dan Melayu. Agama yang dipeluk adalah Hindu,
Budha dan Sunda wiwitan. Bentuk pemerintahannya adalah Monarki.
6. Kerajaan Medang (752-1045)
Kerajaan Medang (atau sering juga
disebut Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu) adalah nama sebuah
kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8, kemudian berpindah ke Jawa
Timur pada abad ke-10. Para raja kerajaan ini banyak meninggalkan bukti sejarah
berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta
membangun banyak candi baik yang bercorak Hindu maupun Buddha. Kerajaan Medang
akhirnya runtuh pada awal abad ke-11.
Ibu Kotanya di Jawa
Tengah kemudian pindah di Jawa Timur. Memakai bahasa Jawa Kino dan Sansekerta.
Agma yang dipeluk masyarakat adalah Kejawen, Hindu, Budha dan Animisme. Bentuk
pemerintahannya adalah Monarki
7. Kerajaan Kediri (1042-1222)
Kerajaan Kediri atau Kerajaan
Panjalu, adalah sebuah kerajaan yang terdapat di Jawa Timur antara tahun
1042-1222. Kerajaan ini berpusat di kota Daha, yang terletak di sekitar Kota
Kediri sekarang. Agama yang berkembang pada saat itu adalah Hindu dan Buddha.
Sejarah Kediri dibagi pada tahun
1042 dari Kahuripan, kemudian bergabung lagi dengan Janggala antara tahun
1116-1135. Kemudian runtuh oleh pemberontakan Ken Arok.
Kerajaan Panjalu di bawah
pemerintahan Sri Jayabhaya berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala dengan
semboyannya yang terkenal dalam prasasti Ngantang (1135), yaitu Panjalu
Jayati, atau Panjalu Menang.
Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya
inilah, Kerajaan Panjalu mengalami masa kejayaannya. Wilayah kerajaan ini
meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai
mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatra.
Ibu kotanya di Daha,
Dahanapura. Memakai bahasa Jawa Kuno. Agama yang dipeluk masyarakat adalah
Hindu dan Budha. Bentuk pemerintahannya adalah Monarki.
Kerajaan Janggala dan Panjalu
(Kediri), kemudian bersatu menjadi Kerajaan Kediri
8. Kerajaan Dharmasraya (1183-1347)
Dharmasraya merupakan nama ibukota
dari sebuah Kerajaan Melayu di Sumatera, nama ini muncul seiring dengan
melemahnya kerajaan Sriwijaya setelah serangan Rajendra Chola I raja Chola dari
Koromandel pada tahun 1025. Agama yang berkembang di sini adalah agama Buddha.
Kemunduran kerajaan Sriwijaya akibat serangan Rajendra Chola I, raja dinasti
Chola telah mengakhiri kekuasaan Wangsa Sailendra atas Pulau Sumatra dan
Semenanjung Malaya. Beberapa waktu kemudian muncul sebuah dinasti baru yang
mengambil alih peran Wangsa Sailendra, yaitu yang disebut dengan nama Wangsa
Mauli.
Ibu Kotanya di Dharmasraya, Hulu Batang Hari. Memakai bahasa Melayu Kuno dan
Sansekerta. Agama yang dipeluk masyarakat adalah Budha. Bentuk pemerintahannya
adalah Monarki.
9. Kerajaan Pagaruyung (abad ke-14-16)
Kerajaan Pagaruyung adalah sebuah
Kerajaan Melayu yang pernah berdiri, meliputi provinsi Sumatra Barat sekarang
dan daerah-daerah di sekitarnya. Nama kerajaan ini dirujuk dari Tambo yang ada
pada masyarakat Minangkabau, yaitu nama sebuah nagari yang bernama Pagaruyung.
Agama yang berkembang pada masa ini adalah Buddha, kemudian berubah menjadi
Islam.
Munculnya nama Pagaruyung sebagai
sebuah kerajaan Melayu tidak dapat diketahui dengan pasti, dari Tambo yang
diterima oleh masyarakat Minangkabau tidak ada yang memberikan penanggalan dari
setiap peristiwa-peristiwa yang diceritakan, bahkan jika menganggap
Adityawarman sebagai pendiri dari kerajaan ini, Tambo sendiri juga tidak jelas
menyebutkannya. Namun dari beberapa prasasti yang ditinggalkan oleh
Adityawarman, menunjukan bahwa Adityawarman memang pernah menjadi raja di
negeri tersebut, tepatnya menjadi Tuhan Surawasa, sebagaimana penafsiran
dari Prasasti Batusangkar.
Ibu kotanya adalah Pgaruyung.
Bahasa yang dipakai adalah Minang, Melayu dan Sansekerta. Agama yang dipeluk
adalah Budha, namun kemudian berubah menjadi Islam. Bentuk pemerintahannya
adalah Maonarki.
10. Kerajaan Indrapura (abad ke-16-18)
Kerajaan Inderapura
merupakan sebuah kerajaan yang berada di wilayah kabupaten Pesisir Selatan,
Provinsi Sumatera Barat sekarang, berbatasan dengan Provinsi Bengkulu dan
Jambi. Secara resmi kerajaan ini pernah menjadi bawahan (vazal) Kerajaan
Pagaruyung. Walau pada prakteknya kerajaan ini berdiri sendiri serta bebas
mengatur urusan dalam dan luar negerinya. Agama yang berkembang pada masa ini
adalah agama Buddha, kemudian pindah menjadi Islam.
Kerajaan ini pada masa jayanya
meliputi wilayah pantai barat Sumatera mulai dari Padang di utara sampai Sungai
Hurai di selatan. Produk terpenting Inderapura adalah lada, dan juga emas.
Ibu Kotanya
terletak di Inderapura. Bahasa yang dipakai adalah Minang, Melayu dan
Sansekerta. Agama yang dipeluk adalah Budha, kemudian berubah menjadi Islam.
Bentuk pemerinthannya adalah Monarki.
11. Kerajaan Singhasari (1222-1292)
Kerajaan Singhasari atau sering
pula ditulis Singasari atau Singosari, adalah sebuah kerajaan di
Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Lokasi kerajaan ini
sekarang diperkirakan berada di daerah Singosari, Malang. Agama yang berkembang
adalah agama Siwa-Budha.
Berdasarkan prasasti Kudadu, nama
resmi Kerajaan Singhasari yang sesungguhnya ialah Kerajaan Tumapel. Menurut Nagarakretagama,
ketika pertama kali didirikan tahun 1222, ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja.
Pada tahun 1222 terjadi perseteruan
antara Kertajaya raja Kadiri melawan kaum brahmana. Para brahmana lalu
menggabungkan diri dengan Ken Arok yang mengangkat dirinya menjadi raja pertama
Tumapel bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Perang melawan Kadiri
meletus di desa Ganter yang dimenangkan oleh pihak Tumapel.
Pada tahun 1254, Raja Wisnuwardhana
mengangkat putranya yang bernama Kertanagara sebagai yuwaraja dan mengganti
nama ibu kota menjadi Singhasari. Nama Singhasari yang merupakan nama
ibu kota kemudian justru lebih terkenal daripada nama Tumapel. Maka, Kerajaan
Tumapel pun terkenal pula dengan nama Kerajaan Singhasari.
Ibu Kotanya adalah Tumapel. Bahasa
yang dipakai adalah Jawa Kuno dan Sansekerta. Agama yang dipeluk adalah
Siwa-Budha, Kejawen, dan Animisme. Bentuk pemerintahannya adalah Monarki.
12. Kerajaan Majapahit (1293-1527)
Majapahit adalah sebuah kerajaan di Indonesia yang
pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai
puncak kejayaannya dan menjadi Kemaharajaan raya yang menguasai wilayah yang
luas pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga
1389.
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan
Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Nusantara dan dianggap sebagai salah satu
dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia. Kekuasaannya terbentang di Jawa,
Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, hingga Indonesia timur, meskipun
wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan
Sebelum berdirinya Majapahit,
Singhasari telah menjadi kerajaan paling kuat di Jawa. Hal ini menjadi
perhatian Kubilai Khan, penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan
yang bernama Meng Chi ke Singhasari yang menuntut upeti. Kertanagara, penguasa
kerajaan Singhasari yang terakhir menolak untuk membayar upeti dan
mempermalukan utusan tersebut dengan merusak wajahnya dan memotong telinganya.
Kublai Khan marah dan lalu memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293.
Ketika itu, Jayakatwang, adipati
Kediri, sudah membunuh Kertanagara. Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang
memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya, menantu Kertanegara, yang datang
menyerahkan diri. Raden Wijaya kemudian diberi hutan Tarik. Ia membuka hutan
itu dan membangun desa baru. Desa itu dinamai Majapahit, yang namanya
diambil dari buah maja, dan rasa "pahit" dari buah tersebut. Ketika
pasukan Mongol tiba, Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongol untuk bertempur
melawan Jayakatwang. Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu Mongolnya sehingga
memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya secara kalang-kabut karena
mereka berada di teritori asing. Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir
mereka untuk menangkap angin muson agar dapat pulang, atau mereka harus
terpaksa menunggu enam bulan lagi di pulau yang asing.
Ibu Kotanya adalah
Wilwatikta. Bahasa yang dipakai adalah Jawa Kuno dan Sansekerta. Agama yang
dipeluk masyarakat adalah Siwa-Budha, Kejawen dan Animisme. Bentuk
pemerintahannya adalah Monarki.
LEMBAR KERJA SISWA
Candi Muara Takus, terletak di Riau
Percandian Muara Jambi Prasasti ciateureun,di jawa barat
Candi Gunung Tua,
Sumatra Utara prasasti yupa,kerajaan kutai di
kaltim Candi Borobudur,di Kabupaten Magelang
Candi Prambanan, terletak di Klaten-Sleman Candi Gedong Songo Gunung Ungaran
Candi Jago , terletak di Malang
Candi Sawentar, terletak di
Blitar Kerajaan Dharmasraya Di Riau